MAIDATURRAHMAN
Aku tu paling suka maidaturrahman. Emangnya apa sih maidaturrahman? Gak tahu ya! Kacian deh lho. Ya udah aku kasih tahu neh. Pastinya maidaturrahman itu terdiri dari dua suku kata: Maidah artinya hidangan dan arrahman, Yang Maha Pengasih yaitu salah
satu nama Allah. Nah jadi kalau bulan puasa (Ramadhan) di mesjid-mesjid itu sering ngadain maidaturrahman sebagai hidangan buka puasa bagi orang yang berpuasa. Jadi kalau diartikan, maidaturrahman itu adalah jamuan Allah, begitulah kira-kira.
Selaku mahasiswa, tentu nikmat ini tak lepas dari pengamatan, observasi dan pemetaan (hehe). Makanya menjelang maghrib sebagian orang termasuk aku yang berstatus mahasiswa ini pada nyebar. Bukan apa-apa selain menghemat biaya pengeluaran harian, menunya juga lumayan bergizi: daging atau ayam tambah lagi buah-buahan atau juz buah kemasan. Siapa yang gak ngiler ayo!
Selain di mesjid-mesjid, kadang maidaturrrahman juga ada di sebagian halaman apartemen orang kaya Mesir. Yang asiknya, kalau apartemennya dekat dengan apartemen kita. Tinggal loncat, jalan dikit…nyampe deh. Tapi biasanya ini jarang. Soalnya kalau apartemen orang kaya, biasanya disampingnya juga kaya. Nah mahasiswa…ya susah lah jadi tetangga orang kaya, palingan jarak ratusan meter.
Atau ada juga yang dibagi-bagikan menjelang maghrib. Sebagian mahasiswa Indonesia ada kepilih tuh menjadi koordinator maidaturrahman. Jadi kita tinggal catat nama (sepeti pendaftaran gitu lah) dan tulis berapa banyak kepala yang ada dirumah trus menjelang maghrib datang ngambil bungkusan. Enak bukan!! Mahasiswa emang dianak emaskan. Para muhsinin (dermawan) Mesir itu tahu, selain uang pas-pasan, mahasiswa itu kan nuntut ilmu dan orang nuntut ilmu sama seperti orang yang berjihad. Mereka tuh senang membantu para penuntut ilmu.
Kadang aku juga malas ngambilnya. Soalnya penyakit malasku lagi kumat (emang sering kumat). Mendingan masak sendiri pikirku, walaupun sedikit kurang bergizi setidaknya lebih enak dikitlah. Lagian aku juga malas keluar rumah dalam perut lapar dan haus. Lemas lagi.
Kalau soal masak, wah aku bukan ahlinya. Aku paling pakar dalam menikmati hehehe…tapi masih mendinglah buat kalangan pribadi dan teman rumah, asal jangan dibagikan ama tetangga heheheh. Soalnya pernah kejadian aku masak di rumah teman (waktu masih anak baru), ternyata satu orangpun gak ada yang mau makan. Bukan mereka gak mau menghargai, tapi memang gak pantas untuk dimakan huk..huk..huk.
Kalau ingin perbaikan gizi, maidaturrahman memang pilihan tepat, tapi untuk kelezatan…gimana ya?? Jadi ada semboyan tuh "perbaikan gizi tapi tak perbaikan selera" hehehe.
Menu maidaturrahman itu original, alias gak banyak bumbu ini dan bumbu itu. Orang Mesir emang kurang lihai dalam seni memasak. Jadi daging yang dihidangkan cuma direbus plus sayur kacang yang tak berasa kecuali rasa garam dan sedikit merah tapi gak pedas (orang Mesir gak suka pedas). Kalau ayam lumayanlah, karena ayam panggang, besar-besar lagi potongannya. Satu ayam dipotong empat. Jadi rasanya asli gitu. Ayam ya rasa ayam, daging ya rasa daging. Bukan seperti masakan Indonesia, yang rame bumbu. Lihat aja rendang, daging ama bumbu sama beratnya. Kirain daging eh rupanya lengkuas.
Bulan ramadhan emang bulan penghematan besar-besaran. Bukan karena makan dan pengeluaran sedikit tapi karena pemasukan banyak. Belum lagi ditambah musaadah (bantuan) uang tunai maupun sembako. Biasanya, menjelang Ramadhan BWKM bagi-bagi sembako: beras, gula, minyak dan teh. Kalau yang dah berkeluarga malah dapat porsi jumbo. Kalau digabung ama teman-teman satu rumah, bisa setengah karung lebih hasilnya.
Kalau menjelang akhir ramadhan, sering-sering aja ke Mesjid soalnya ada pembagian zakat. Yang canggihnya, ada temen yang sudah hapal mesjid-mesjid mana aja yang akan menyalurkan zakat (dah dipeta-petakan kali). Mahasiswa juga termasuk ibnu sabil, salah satu orang yang berhak mendapatkan bantuan zakat.
Yang ngambil zakat bukan orang Indonesia aja, termasuk juga mahasiswa Thailand, Filiphina, Afrika, Rusia dan Negara-negara sekitarnya. Mahasiswa Malaysia juga, tapi lebih dikit. Kalau Brunei kayaknya gak lah. Ada juga mesjid yang mengkelompokkan berdasarkan Negara. Hari ini untuk Rusia misalnya, hari berikutnya untuk Asia atau Afrika. Kalau uang masih banyak, malah disuruh untuk manggil teman-teman yang lain.
Well salut deh ama tradisi puasa di sini. Jiwa kedermawanan orang Mesir tuh tinggi. Bukan hanya orang kaya aja, orang yang kurang mampu juga berusaha untuk memberi. Aku aja sering jumpa ama bapak-bapak yang mau membagikan satu butir kurma kering ama setiap jamaah sholat maghrib. Asli, cuma satu butir doang, gak dua. Itukan buktinya dia kurang mampu, tapi tetap juga masih mau bersedekah.
Pesan orang tua: yang penting niat dan ketulusannya!!! (aku juga tulus kok ngambilnya).
Kalau aku pikir-pikir, walaupun aku berhak mendapatkan zakat dan diperlakukan dengan hormat, tapi tetap aja ada sebersit rasa kurang enak ngambilnya. Tapi gimana lagi ya. Aku kan butuh sewa apartemen, ongkos, ama beli-beli buku. Belum lagi mikirin utang yang gali lobang tutup lobang. Enaknya sih kayak mahasiswa Malaysia atau Brunei, yang dari sononya dapat bantuan studi dari pemerintahan masing-masing plus asrama. Kalau kita yang dari Indonesia…ya jangan harap.
Tapi walaupun gitu, kita masih bisa bangga. Soalnya, untuk kawasan Asia Tenggara, kita masih teratas dalam akademis. Banyak juga kok mahasiswa Malaysia yang minta bimbingan dengan Indonesia. Jadi masih bisa banggalah dengan status WNI. Cuma sebel aja ama pemerintah yang gak care ama kita-kita ini.
Eniwei kita tetap bersyukur, masih ada azhar yang mau ngasih uang saku buat mahasiswa dan menggratiskan biaya pendidikan. Kalo diktat ya beli (masa mau gratis semua). Tapi sering juga kok pembagian diktat majjanan , asal sabar nunggu dan mau ngantri. Prinsip yang harus di pegang di Mesir ini: sabar..sabar..dan sabar. Kalo gak sabar, silahkan minggat.
Monday, July 6, 2009
MUSIM DINGIN VS MUSIM PANAS
Kadang aku heran lihat diriku dan orang-orang seperti ku. Apa pasal? Kalau Kairo lagi musim dingin, pinginnya musim panas, kalau musim panas mintanya musim dingin. Berabe kan. Emang jam beker apa, bisa putar sana, putar sini. Ini musim bung! Udah distel kian dari sononya. Udah nikmati aja, jangan banyak ngeyel.
Oya, dinginnya Kairo gaklah seperti Eropa atau Rusia sana yang sampai nol dibawah derjat dan bersalju. Disini gak ada salju, palingan di puncak gunung Sinai aja. Pingin juga sih ngerasainnya. Pingin buat boneka salju (sok imut lo) apalagi selancar (emang bisa?)
Suer, musim dingin itu enak. Enak apa aja. Mulai dari makan, tidur, baca sampai nonton film Korea atau kungfu berjilid-jilid. Makanya anak-anak sedikit gemuk tuh musim dingin. Ya iyalah, kerjaannya makan ama tidur doang, banyak lagi. Gak tanggung-tanggung, malam tidur eh pagi nambah lagi. Kalau soal makan, gak panas gak dingin, makanku tetap porsi musim dingin. Ini yang namanya stabil maksudnya stabil banyaknya hehehe. Dan kalau aku perhatikan, kulit anak-anak mendadak sedikit bersinar di Musim dingin, walaupun sekedar cuci muka.
Yang gak enak di musim dingin adalah kalau berhubungan dengan air, baik mandi ataupun wudhu. Apalagi kalo gak ada sakhonah (pemanas air). Makanya, kalo ada anak Kairo yang gak mandi dua sampai tiga hari, bukan barang aneh. Kalo yang gak mandi satu hari itu mah banyak. Cukup cuci muka, dan sikat gigi lagian 5 waktu kan wudhu, jadi gak gitu kelihatan belum mandinya.
Karena musim dingin ya pastinya suasana dingin, masa panas. Kalau awal-awal musim dingin gak papa sih, malah enak lagi, tapi kalau udah puncak, ini dia yang gak enaknya, sampai-sampai hidung susah di gerakkan. Mau gak mau, harus pakai jaket tebal. Kalau aku pakai jaket, tangan dan bodi ku mendadak seperti Arnold swarzeneger Sang terminator yang berubah profesi menjadi gubernur itu. Teman-temanku sering bilang itu jaket kodok. Emang sih kalau dipakai, badan mendadak besar bulat mirip kodok bangkong.
Biar gak dingin, kadang anak-anak makai khuf . Aku baru tahu, begini ya rupanya khuf. Selama menjadi anak sekolahan dulu, aku hanya tahu namanya aja. Kupikir khuf itu sejenis sepatu bot tentara yang susah dilepas eh ternyata kaus kaki kulit.
Kalo ku lihat yang suka pakai khuf itu si Azim -mukanya makin bulat aja sekarang. Kalo aku, sampai detik tulisan ini, belum pernah sama sekali makai yang namanya khuf. Ada keuntungan kita memakainya. Pertama, kaki menjadi hangat. Kedua, pas wudhu gak perlu kedinginan membasuh kaki. Seperti kita ketahui waktu sekolahan dulu, (dikuliah juga diulang), orang yang memakai khuf tidak perlu membasuh kakinya tapi cukup dengan menyapu bagian atas khuf tanpa membuka. Ini berlaku selama tiga hari, selepas jatuh tempo…..dengan syarat sebelum makai khuf kita sudah wudhu terlebih dahulu alias terbebas dari hadas besar dan kecil. Begitulah hukum fiqh yang diajarkan oleh guru-guru kita.
Di musim dingin yang paling bejibaku adalah sholat shubuh. Pokoknya salut dah buat kawan-kawan yang pada waktu musim dingin masih nyempati sholat jama'ah subuhnya ke mesjid. Pikir-pikir lebih baik sholat sendirian aja di rumah, trus tidur lagi dah ampe jam 8 atau sekalian aja bangun menjelang zuhur hehe.
Trus gimana dengan Musim panas? Asiknya musim panas, aku bisa jalan kemana-mana tanpa kedinginan dan susah payah bawa jaket kodok. Kalau ziarah kerumah teman juga bisa tidur dimana aja tanpa perlu susah payah nyiapin ranjang and selimut. Bisa tidur di ranjang, ruang tamu, kalau mau dapur sekalian hehehe. Mandi malah bisa jadi hobi waktu musim ini. Aku aja sering mandi tengah malam jam 11, malah pernah pukul satuan gitu (mandi kembang kali). Bukan aku aja sih, yang lain juga.
Tapi sakitnya kalau tidur, mata musuh pasti mengintaiku dari sudut penjuru tilam. Bentuknya kayak mobil tempur Satria Baja Hitam RX. Apa lagi kalau bukan kepinding alias kutu busuk. Aku tahu wajah sadis-cool si kutu busuk malah baru di sini. Di indo hanya kenal nama tak tahu tampangnya. Di musim ini mereka baru bergriliya mencari mangsa. Mulai dari pembasmi serangga berbentuk kapur sampai bentuk cairan pernah ku pakai untuk menahan serangan kepinding. Gak mempan bro. gak tahu, strategi perang apa dipakainya. Aku bingung, udah ku bersihkan malah ku jemur, kok masih ada juga. Nie kutu busuk pernah ikut dinas tentara kali ya. Ya udahlah..aku pasrah dan akhirnya tidur dengan kewaspadaan tingkat tinggi (huh).
Itu serangan darat, kalau dari serangan udara komando berada di pasukan lalat. Bedanya, kutu busuk beraksi malam, Si lalat terang-terangan disiang hari. Memang tidak menyakiti sih, tapi kan gak enak tuh tuh kalo hinggap di badan, atau di muka apa lagi kalau si lalat sampai menorobos lubang hidung…wah seharian bisa bersin. Terpaksa di tutup rapat-rapat jendela dan pintu. Sialnya..ini musim panas, di buka aja masih panas konon lagi ditutup ..simalakama.
Kalau untuk nyamuk, Kairo bebas mah dari predator penghisap darah ini. Musim dingin pasti gak bakalan berani keluar. Beraninya hanya musim panas dan itu pun jarang. Palingan nyamuk nyasar satu dua ekor. Jadi di sini gak perlu pakai baygon, atau asap-asap pengusir nyamuk ataupun kelambu. Pokoknya aman dah.
Karena nyamuknya nyamuk Mesir, so pasti gede, kayak orang Mesir sendiri. Kadang aku heran, di mesir ini kok pada gede semua ya. Bawang besar, cabe besar, semut, nyamuk, kucing juga pada besar-besar. Mesjid juga besar. Heran, sementara Indonesia kecil-kecil. Termasuk mahasiswa Indonesia terlebih lagi mahasiswi. Semuanya kecil. Kurang gizi kali ya!!!
Yang enaknya dimusim panas kalo apartemen pakai AC. Tapi ada gak ya rumah mahasiswa yang pakai AC hehehe. 1 banding seribu kalee. Alternatif murah ya… kipas angin, sekaligus untuk mengusir lalat. Kalau gak gitu, berakhir seperti orang barat yang lagi jemur di tepi pantai. Yang paling dramatis kalau sehabis pulang kuliah dan desakan naik bus yang selalu padat (kapan sih Kairo gak padat, kecuali naik taksi, atau bus AC yang ongkosnya 4 kali lipat dari umumnya). Dalam keadaan inilah segala jenis aroma bercampur menjadi satu dan membentuk senyawa baru yang belum ternamakan di dunia fisika. Malah senyawa akan bertambah keras zatnya kalo tiba-tiba misalnya macet atau pak supir masih tahan nunggu penumpang yang lain. Siapkan diri dengan segala kemungkinan hehehe
Pastinya aku harus nyesuaikan diri dengan musim lah. Kata orang tua dulu "di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung". Pernah aku sekali, kekuliah hanya pakai switter. Sewaktu berangkat dari rumah gak ada masalah, kulihat langit cerah sehabis hujan rinti, udara juga gak gitu dingin. Eh tak dinyana sewaktu pulang kuliah cuaca berubah total dan angin kencang mendekati badai. Hidungku mulai mati rasa, muka jadi tebal, ku tengok tanganku agak kebiru-biruan. Mati pikirku. Parahnya bus juga belum datang-datang. Aku cemas dan menggigil. Kuperbanyak doa biar bus cepat datang. Allah…
Inilah akibat akal pendekku, gegabah, tanpa persiapan dan sok mantap. Prediksi awalku meleset 100 persen. Betul-betul menegangkan dan mendebarkan. Allah masih berpihak padaku. (Makanya jangan terlalu pede dengan prakiraan cuaca !!!)
Sunday, July 5, 2009
Bahagianya Diriku
Betapa senangnya, ribuan syukur dan gejolak batin mengharu biru, meski awalnya beribu macam hal yang tidak mengenakkan terus menghantui. Terlebih ketika nama saya gaib dalam jajaran nama-nama mahasiswa yang naik tingkat terpampang di sudut dinding kampus al Azhar. Batin saya tak karuan, jangan-jangan saya bagian dari jejeran yang tidak lulus. Setelah dicari dan dicari juga tidak ketemu, rupanya nama dan nomor
saya tidak tertulis alias terlupa (waduh). Lantas saya menuju syuun tulab (bagian kemahasiswaan) untuk memastikan keberadaan nilai yang selalu dinanti dengan penuh debaran. Disinilah puncak kebahagiaan itu, “inta najih” (kamu lulus) kata ustadz Mukmin. Dada saya yang tadi terasa berat sontak menjadi lapang sejurus senyuman yang merekah. Dan semakin komplit dan meluaslah detik-detik kebahagiaan itu dengan tambahan ‘jayyid’ (baik), 782 point. Allah…batinku.
Beberapa teman sontak tak percaya apa yang terjadi terlebih Si Azim nama lengkapnya Abdul Azim Husaimy -teman senasib dan sependeritaan dalam pahit-getir dan perihnya studi- dengan sikap tongkarnya mengkalkulasikan nilai pernilai yang tidak mungkin aku mendapatkan nilai jayyid, sengitnya.
Seribu satu macam planning bermunculan disyaraf halusku, mulai dari semangat untuk belajar lebih baik lagi, sampai perhitungan ekomis. Rasa kecewa yang dulu mendera setidaknya dapat terobati. Memang bagi sebagian teman yang terbiasa mendapatkan nilai diatas maqbul (cukup) memang terlihat biasa, tapi tentu beda denganku dan teman sependeritaan lainnya, dan jangan sekali-kali bandingkan dengan kawan-kawan yang berada dipuncak, ‘mumtaz’ (cumlaude), yang jumlahnya hanya nol koma nol persen dari ribuan mahasiswa.
Saya boleh berbangga kalau mengirim sms untuk orang tua dan keluarga di Indonesia. Betapa manisnya keberhasilan itu apalagi setelah didera kepahitan. Perasaan ‘aku orang tergoblok di dunia’ tidak boleh lagi mampir dalam akalku. Aku telah membuktikannya dan harus terus membuktikan.
Syukur pada Allah yang tidak tercukupi dengan kata-kata. Terima kasihku buat kedua orang tua serta kakak dan abangku yang telah sudi memahami, dan kini giliranku untuk memahami apa yang mereka rasa dan harapkan. Buat teman-teman serumah (yang kita sering telat bayar sewa), terima kasih atas pujian tulusnya sebagai tanda turut bahagia akan perasaan bahagiaku. Dan tak ketinggalan pula ustazd Mukmin -syuun tullab yang hanya kusapa untuk urusan administrasi kampus yang harus antri dulu- yang juga turut berbangga atas perolahan nilaiku. Faamma bini’mati Rabbika Fahaddits. (Warung makan Sehati, ditemani segelas kopi. Jami’, Cairo 05-08-‘08 )
Saturday, July 4, 2009
Return of My Memory
Suaranya mengingatkan suasana Ramadhan. Indah, dan memiliki pengaruh bagi para makmum yang berada dibelakangnya. Pemilik suara itu adalah Syaikh Yasir Salamah. Kali ini beliau menyempati diri mengimami sholat Isya di Mesjid Salam. Lazimnya saat bulan puasa tiba, selama sebulan penuh beliaulah menjadi imam taraweh di mesjid yang berarsitektur Qubah Assakhra di Palestina yang tertawan itu.
Bacaannya mampu menggugah makmum. Disamping saya, seorang bapak setengah tua tak tahan menahan suara isakannya karena meresapi ayat demi ayat yang dilantunkan. Betapa indah dan damai suasana seperti ini. Tak ubah guyuran embun di padang Sahara yang gersang membakar. Begitu nikmat alunannya, perpaduan keindahan suara dan redaksi ayat mampu menggetarkan hati dan meneguhkan paradiqma sentralitas tata nilai yang terkandung dalam al Quran sebagai kitab semesta. Puzle-puzle pikiran yang berserakan dan kabur ditelan aktifas mulai saling berdekatan. Bergerak kesatu arah membentuk suatu keutuhan cahaya. Tibalah saat selanjutnya, bagaimana menyibak cahaya semesta itu, batinku. Akupun sadar dangkalnya ilmuku tentang cahaya, terlebih korelasinya terhadap misteri semesta yang paradoksal, penuh keanehan dan benturan bahkan mematikan, disamping keajaiban yang meliputinya.
Potongan-potongan ingatanku kembali kepermukaan yang telah ku goreskan dan terpendam:
Terpancang di alam semesta
mengorbitkan sejuta misteri
dan diayun selaksa pertanyaan
tak habis dicari dan digali
dahaga belum terbasahi
berburu abstrak hakikat wujud
dari satu titik ketitik lainnya
hati-hati!
terperangkap titik palsu
menuju kepalsuan berikutnya
ular dan kalajengking menjelma
pastikan kompasmu benar
mawas pada fatamorgana
indah kerontang tak berguna
gelombang badai dan gulita samudera
menelan biduk tanpa pelita
Banyak benang kusut yang belum terurai, kaca belum dibersihkan. Bagaimana melihat semesta ini.
Kenalkan aku Aidil
